Kehidupan di Madinah Pasca Hijrah
by
Kisah Islam · May 14, 2012
Hijrah bukan semata-mata menyelamatkan diri dari gangguan
orang-orang kafir atau pindah dari negeri kufur, akan tetapi makna
hijrah yang lebih jauh adalah berkumpul dan tolong-menolong untuk
menegakkan
jihad fi sabilillah meninggikan kalimat Allah dengan menyebarkan ilmu, amal, dan dakwah serta memerangi setiap orang yang menghalangi jalan dakwah.
Oleh karena itu, setelah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di negeri hijrah –
Madinah-, beliau dan para sahabat tidak sepi dari aktivitas membangun masyarakat yang islami.
Madinah
adalah negeri yang aman untuk menyebarkan dakwah, yang jauh berbeda
dengan Mekah. Yang demikian itu karena Madinah adalah kota oran-orang
Anshar, penolong-penolong agama Allah, sedangkan Mekah adalah tempat
orang-orang kafir musuh Allah, Rasulullah, Islam, dan kaum muslimin.
Walaupun secara umum Madinah memiliki penolong-penolong dakwah,
percampuran antara Muhajirin dan Anshar yang latar belakang dan adat
istiadanya berbeda menimbulkan masalah yang baru dan membutuhkan jalan
keluar yang baru pula. Terlebih lagi, penduduk Madinah secara khusus
pada saat itu terdiri atas tiga kaum dan sekaligus tiga agama, yaitu:
kaum muslimin yakni Anshar, orang-orang musyrik dari bangsa Arab, dan
Yahudi. Kaum Yahudi sendiri terdiri atas tiga kabilah yaitu: Bani
Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Orang-orang Yahudi ini berasal
dari Syam (sekarang Syiria, Yordania, lebanon, dan Palestina). Mereka
datang dan bermukim di Madinah karena ditindas dan diusir oleh bangsa
Romawi yang beragama Nasrani sebab kejahatan Yahudi yang menganggap hina
semua umat selain mereka dan juga mereka mengetahui berita akan
datangnya seorang nabi serta mengetahui tempat hijrahnya lewat wahyu
Allah dalam kitab-kitab mereka. Mereka datang sesuai dengan niat dan
janji bahwa akan mengikuti nabi tersebut jika telah keluar. Akan tetapi,
setelah muncul nabi ini (yakni Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam) mereka kafir (mengingkari) karena iri dan dengki akibat fanatisme jahiliah kesukuan; yaitu lantaran beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam –nabi yang mereka nanti-nantikan- tidak berasal dari golongan mereka, Bani Israil.